Judul di atas saya dapatkan dari Ahmadi, anggota DPRD kota Semarang dalam sebuah kesempatan. Kalimat kedua benar bahwa segalanya memang bermula dari pendidikan. Ketika seorang pemuda hidup bebas, tanpa aturan dalam pergaulan, apalagi taat agama atau kemasyarakatan, kita yakin pendidikan dia tidak berhasil. Orang tuanya tidak konsen dalam mendidik dia, sekolah pun mungkin gagal apalagi ikut kegiatan positif di masyarakat sebagai bentuk belajar.
Dalam kasus lain, ketika seorang pemuda berprestasi di sekolah, teladan di masyarakat dan dengan Tuahnnya dia taat, kita yakin pendidikan dia berhasil, di keluarga sangat ditekankan pendidikan dia, di sekolah sangat efektif belajarnya. Jadi, semua bermula dari pendidikan, apalagi yang bisa mempengerahui kondisi seseorang kalau bukan pendidikan, karena pada prinsipnya pengalaman seseorang adalah hasil pengalaman belajar.
Kalimat pertama, dari pak Ahmadi, nampaknya kurang pas, kalau dipikir-pikir kedua kalimt tersebut sebenarnya satu kesatuan, sama artinya, bahwa semua memang bermula dari pendidikan, jadi pendidikan ya segala-galanya. Tapi saya pikir kalimat itu memang bagus banget, dari sisi jurnalistik pemilihan judul yang tepat.
Walhasil, kita sepakat pendidikan di negeri ini harus lebih dipikirkan lagi. Anggaran negara 20 % harus dialokasikan yang lebih tepat untuk kemajuan pendidikan, bukan sekedar laporan.
Rasululloh shollallohu ‘alaohi wasalam mewasiatkan kepada kita bahwa belajar itu sepanjang hidup, bahkan kejarlah ilmu meskipun sampai ke negeri cina.
{September 23, 2008}
Pendidikan bukan segalanya tapi semua dari Pendidikan
{September 22, 2008}
Halo dunia!
Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!